wahabinews

Mengungkap Fakta Wahabi

Menurut Salafi-Wahabi – Hadits “Perbedaan Adalah Rahmat” Tidak Memiliki Asal dan Bukanlah Berasal Dari Sebuah Hadits. INI ADALAH SEJELEK-JELEKNYA UCAPAN.


Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al Al Bâni, bahwa hadits ‘Ik

htilâfu Ummatî Rahmatun’ tidak ada asalnya. Beliau menukil al Munawi dari as Subki, hadits tersebut tidak dikenal di kalangan ahlul hadits dan aku tidak mendapatkan sanadnya, baik yang shahih, dhaif dan maudhu’ sekalipun. Bahkan al ‘Allâmah Ibnu Hazm berkomentar dalam al Ihkâm fî Ushûlil Ahkâm, setelah beliau mengisyaratkan bahwa pernyataan ini bukanlah hadits, menurutnya ucapan ini sejelek-jeleknya ucapan; karena bila dikatakan perbedaan itu rahmat, berarti kesepakatan atau persatuan itu adalah laknat.

Kemudian syaikh al Al Bânî menyebutkan apa yang beliau nukil dari al Munawi dalam Faidhul Qadîr, diantara sebab menyebarnya khabar bathil ini adalah:

Pertama, mayoritas kaum muslimin -di masa itu- dipengaruhi oleh maraknya perbedaan pendapat diantara madzhab imam yang empat (al madzâhibul arba’ah), lalu mereka mengikutinya tanpa berupaya mengembalikan kepada kitâbullâh dan sunnah nabiNya, bahkan mereka menganggap madzhab yang empat itu seperti syari’at.

Kedua, berlanjutnya perbedaan-perbedaan dalam hampir seluruh persoalan i’tiqâdiyyah dan ‘amaliyyah kaum muslimin setelah masa imam yang empat sampai sekarang. (lihat Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah I, no.57, hal 141-142).

Adapun riwayat yang shahih, dimana kaum muslimin banyak tertukar dengan pernyataan di atas adalah sabda Rasulullah Saw:

اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَ الْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab”. (HR. Ahmad dari Nu’man bin Basyîr dengan derajat hasan).

Dalam hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “bid’ah selalu disertai dengan perpecahan, sebagaimana sunnah yang selalu diikuti dengan persatuan”. Demikianlah syaikh Ali Hasan al Halabi al Atsari menukil ucapan beliau dalam kitabnya al Istiqâmah.

Yah, sering hadis ini dijadikn hujah utk mengkritik dan menyerang pendapat lain yg bersebrangan, seolah tidak b0leh ada perbedaan pendapat ! APALAGI DENGAN SLOGAN ‘KEMBALI PADA ALQUR’AN DAN HADITS”,EMANGNYA PARA SALAF TIDAK MERUJUK PADA QUR’AN HADIS?? TOH TETAP SAJA ADA PERBEDAAN…!! betul bahwa dlm masalah usul, jelas umat harus dalam satu pendapat, namun bagaimanakah pendapat salaf tentang masalah furu/fiqih ???

MARI KITA LIHAT PEMAPARAN BERIKUT INI :

(1) Alhafid alBaehaqi dalam kitabnya Almadkhol dan Azzarkasi dalam tadzkirah ahadist musytaharah menyatakan bahwa imam alqosim bin muhamad bin abi bakar Asshidiq ra berkata : perbedaan diantara sahabat muhamad adalah rahmat bagi hamba-hamba Allah.
Alhafid Al iraqi guru IMAM Ibnu Hajar berkata : ini adalah perkataan alqosim bin muhamad, BUKAN HADITS..

(2) Alhafid Ibnu Al Atsir dlm pembukaan kitabnya jami al ushul fil Ahadisi Rasul’ menyebutkn bhw perkataan diatas dari imam malik sprt dikatakn ibnu almulaqin dlm Tuhfat Almuhtaz,dan As subki dlm ktbnya Tobaqot Asyafi iyah.

(3) baihaqi dan zarkasi jg menyebutkAn bhw IMAM qutadah bErkAta:bErkAta Umar bin Abd aziz RA’:aku tdk menyukai jika sahabat Muhamad SAW tdk brbeda pndpt,krn jika mrka tdk brbda pndpt,mk tdk akn ada toleransi bAgI kita.

(4) AL baihaqi menybutkn dlm Al madkhol dan Az zarkasi dlm Tadzkirah bhw Al Laits ibn Saad dari Yahya Ibnu Said ‘para ulama adlh org2 yg diberi keluasan/taosi’ah,mrka yg brfatwa tdk hnti2 utk berbeda,shgg seseorang membolehkn sesuatu,sdgkan yg lain melarangnya tanpa menyalahkn yg lainya,ktk ia tau pndpt yang lainnya,

(5)-Alhafid As Sakhowi brkata dlm Maqosid Alhasna 39 stlh mengutip pernytaan di atas: ‘sy tlh membc tulisan tngn syaikh kami/ibnu hajar tntg riwayat Al Laits adlh rfrnsi yg paling trknal bAgI hadis Rasul SAW‘dikutif oleh ibnu hazib dlm bab qiyas yg brbunyi ikhtilafu umati rahmatun lin nas’:bhw emg hal itu tdk ada ASALNYA (la asla laha) namun wlo bgtu Al Khotobi brkta:memang dlm hadis ini tdk trlepas dari ksalahan tp memiliki dasar dlm penetapAn krn adanya perbedaan diantara PARA sahabat.

(6)-Al Iraqi stlh brkata poin 1 smp 5 diatas Di dlm KITAB Mugni Alhaml Al Asfar SERAYA menambahkan:apa yg dimaksud PERBEDAAN DALAM komunitas disini adlh mrka yg berkopmpeten dlm melakukan ijtihad dlm cabang hukum furu,artinya bukan dlm aqidah,krna AQIDAH diketahui HANYA ada 1 kbenaran,apabila mujtahid atau yg lainnya berbeda dlm asal aqidah otomatis terlepas dari islam

IBNU HAZM DLM ALHIKAM FI USHULI AHKAM 5/64 BERKATA-PERKATAAN ”PERBEDAAN PENDAPAT DARI UMATKU ADLH RAHMAT” ITU PERKATAAN YG PALING KELIRU KARENA JIKA PERBEDAAN ADALAH RAHMAT,MAKA BERARTI PERSAMAAN ADALAH LAKNAT,DAN TDK MUNGKN MUSLIM MENYATAKAN INI,KARENA YG ADA HANYA PERSAMAAN ATAU KALAU TDK,BERARTI PERBEDAAN,INTINYA YG ADA HANYA RAHMAT ATAU SEBALIKNYA YAITU LAKNAT.

IMAM NAWAWI MEMBANTAH PANDANGAN IMAM IBNU HAZM INI DLM SYARH SOHEH MUSLIM JIKA SESUATU DIKATAKAN RAHMAT BELUM TENTU KEBALIKANNYA ADALAH LAKNAT,TIDAK ADA SEORANG PUN MEMBUAT KESIMPULAN SEPERTI ITU KECUALI ORANG YG ACUH DAN TAASUB, ALLAH BERFIRMAN-DAN DIANTARA RAHMAT ALLAH,DIA MENJADIKAN MALAM UTKMU SEHINGGA KAMU BERISTIRAHAT DI DLMNYA’(FURQON 47) ALLAH MENYEBUT MALAM SEBAGAI RAHMATNYA,DAN TDK MENGATAKAN LAWANNYA YAITU SIANG SEBAGAI LAKNAT.

(7) IBNU QUDAMAH HAMBALI MENYATAKAN DLM AL AQO’ID ‘PERBEDAAN PENDPT DLM UMATKU ADALH RAHMAT,KESEPAKATAN PADA MEREKA ADALAH BUKTI…!

(8) AS SATIBI DLM AL I-TISOM BERKATA-SEJUMLAH BESAR SALAF PERCAYA BAHWA PERBEDAAN PENDAPAT UMAT DLM FURU SEBAGAI JALAN ROHMAT.

(9) DLUMRA IBNU RAJA MERIWAYATKAN:UMAR BIN ABDIL AZIZ DAN ALQASIM BIN MUHAMMAD BERTEMU DAN MULAI MENGKAJI HADITS,UMAR BIN ABDIL AZIZ RA KEMUDIAN MULAI MENYEBUTKAN SOAL YG BERBEDA DGN APA YG DISEBUTKAN ALQOSIM,MAKA AL QASIM BIN MUHAMAD TERUS MENGAJAK BERDISKUSI HINGGA PERMASALAHAN SAMPAI PADA TITIK,MAKA UMAR BIN ABDIL AZIZ RA BERKATA PADANYA:JGN LAKUKAN!! JGN TANYAKAN KENAPA BERBEDA?! AKU TDK MENYUKAI PENGHAPUSAN RAHMAT ALLAH DARI PERBEDAAN2 MEREKA.WALHAMDULILLAH..!

KESIMPULAN:

ULAMA WAHABI SYAIKH AL-BANI BOLEH SAJA BERPENDAPAT DENGAN SESUKA HATINYA. BOLEH2 SAJA MENILAI SUATU PERKATAAN ATAU HADITS SESUKA HATINYA.

TAPI APAKAH PENDAPATNYA ITU MASIH BISA DI PERCAYA ????

KARENA :

1) Nashiruddin al-Albani Mendhoifkan Suatu Hadits di Satu Tempat, Namun ditempat Lain Dinyatakan Shahih.

SILAHKAN LIHAT DI:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=135488713249712&set=a.103703319761585.4504.100003657516575&type=3

2) Nashiruddin al-Albani Kontradiktif di dalam Menetapkan Status Hukum Perawi.

SILAHKAN LIHAT DI:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=136065069858743&set=a.103703319761585.4504.100003657516575&type=3

3) BAHKAN AL-BANI DAN ULAMA WAHABI LAINNYA BERANI MENDHO’IF KAN HADITS SHAHIH.

Hadits Shahih Yang Di-Dhoifkan Kaum Wahhabi.
SILAHKAN LIHAT DI:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=143247852473798&set=a.103703319761585.4504.100003657516575&type=3

BAGAIMANA CARANYA AGAR UCAPAN AL-BANI DI ATAS BISA KITA PERCAYA???

KARENA TERNYATA DALAM MENENTUKAN STATUS HUKUM PERAWI SAJA AL-BANI KONTRADIKTIF DALAM PERNYATAANNYA, KADANG “A” KADANG “B”

SATU HADITS KADANG DI KATAKAN SHAHIH, DAN KADANG DI TEMPAT LAIN DIKATAKAN DHOIF OLEHNYA.

BAHKAN HADITS SHAHIH PUN DI KATAKAN DHOIF OLEHNYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 3, 2012 by .
%d blogger menyukai ini: