wahabinews

Mengungkap Fakta Wahabi

MENURUT SALAFI-WAHABI – BERDAKWAH MELALUI FILM, SANDIWARA, DAN NYANYIAN ADALAH BID’AH/SESAT !!

DI COPAS LANGSUNG DARI WEB SALAFI-WAHABI.

DRAMA / SANDIWARA

Kegiatan ini telah dijadikan oleh sebagian orang jahil sebagai salah satu sarana dakwah, menyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Drama dan sandiwara telah diingkari oleh kumpulan para ulama Muhaqqiq. Mereka telah menulis kitab yang membicarakan, bahkan melahirkan fatwa-fatwa, atas keharaman dan kebatilan perbuatan itu.

Para ulama juga telah mengingkari dimasukkannya acara tersebut sebagai sarana dakwah Ilallah Ta’ala, karena merupaka perkara yang baru (bid’ah) dalam syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diantara para ulama tersebut: Asy-Syaikh Hamud bin Abdullah At-Tuwaijiri rahimahullah, beliau katakan : “Dimasukkan drama/sandiwara kedalam sarana dakwah Ilallah bukan bagian dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan pula sunnah Khulafa’u ar-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Sungguh drama/sandiwara tersebut merupakan perbuatan yang diada-adakan (perkara baru/bid’ah) pada masa kita.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dari perkara baru. Beliau telah memerintahkan untuk menolaknya dan mengabarkan bahwa hal itu adalah kejelakan dan kesesatan. Diantara nash-nash yang terkait dalam hal itu, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa’u ar-Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk, peganglah sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian dan waspadalah kalian terhadap perkara baru yang diada-adakan karena setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”(Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad).

Hadist ini merupakan salah satu dasar dalam menolak drama/sandiwara dan dari dimasukkannya sebagai sarana dakwah Ilallah Subhanahu wa Ta’ala. Karena perbuatan itu tidak bersumber dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Dalil lain yang tercantum tentang hal tersebut, yaitu ada dalam hadist Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah dan mengatakan :
“Adapun selanjutnya, sebaik-baik pembicaraan adalah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seburuk-buruk perkara dalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat.” (Telah diriwayatkan Ahmad, Muslim, Ibnu Majah dan ad Darimi).

Telah diriwayatkan an-Nasai dengan sanad yang Jayyid dan lafazhnya :
“Maka sebenar-benar perkataan adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap perkara yang baru itu sesat, setiap bid’ah sesat dan setiap kesesatan itu dineraka.”

Hadist ini juga merupakan landasan pokok dalam menolak acara drama tersebut. Juga sebagai landasan untuk menolak dimasukkannya sebagai sarana dakwah Ilallah Ta’ala, karena bukan dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu hanyalah merupakan perkara baru yang dimunculkan kala abad ke-14 H.

Dalil lainnya dalam as-Shahihain dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa yang telah mengada-ada di dalam perkara kami ini yang bukan darinya, maka perkara tersebut tertolak.”

Dalam riwayat Ahmad, Muslim dan Bukhari secara ta’liq yang dipastikan dengannya,
“Barangsiapa yang melakukan sebuah amal yang tidak ada padanya (contoh) perkara kami maka amal tersebut ditolak.”

Dalam riwayat Ahmad dengan sanadnya yang shahih atas syarat Muslim :
“Barangsiapa membuat suatu perkara dari selain perkara kami, maka perkara tersebut tertolak.”

Riwayat ini dan sebelumnya, semuanya mematahkan syubuhat (kesamaran) yang dijadikan pegangan orang-orang yang membolehkan drama/sandiwara (sebagai wasilah dakwah). Apabila telah diketahui, hendaklah diketahui juga bahwa tidak mungkin bagi seseorang untuk mengatakan drama itu dibuat berdasarkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk memasukkan kedalam sarana dakwah kepad Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Barangsiapa menganggap hal tersebut dibuat atas perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memerintahkan agar memasukkan sebagai salah satu sarana dakwah kepada Allah, maka wajib baginya untuk menunjukkan dalil/perintah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah menetapkan hal itu. Maka pasti dia tidak akan pernah bisa menunjukkan atau menjumpai jalan yang menuju hal itu.

SUMBER:
http://www.salafy.or.id/fatwa-fatwa/film-sandiwara-baiat-adalah-sarana-dakwah-bidah/

FILM & SANDIWARA, NYANYIAN ADALAH SARANA DAKWAH BID’AH (2)

Para ulama dari kalangan ahli Tahqiq telah menetapkan bahwa sarana-sarana dakwah itu sifatnya tauqifiyyah dan pelaksanaannya harus berdasar manhaj kenabian.
Orang yang paling baik didalam menetapkan perkara tersebut dengan penjelasan yang luas dan mendatangkan dalil, baik secara aqli dan naqli, adlah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau menjawab pertanyaan dan memberi bantahannya terhadap perkara tersebut. Berikut yang ditulis beliau :

Syaikhul Islam ditanya, ada sebuah jamaah yang didirikan dengan tujuan menyadarkan manusia dari dosa-dosa besar, seperti membunuh, merampok, mencuri, minum khamer, dan lainnya. Kemudiaan salah seorang syaikh yang dikenal dengan kebaikan dan ittiba’nya terhadap Sunnah bermaksud mencegah mereka dari perkara-perkara tadi.

Proses penyadaran itu tidak bisa dilakukan kecuali dengan mengadakan nyanyian-nyanyian dan mereka berkumpul didalamnya dengan meniatkan hal tadi. Nyanyiannya diiringi dengan rebana tidak dengan yang lainnya. Adapun syair lagunya dengan syair-syair yang mubah tanpa disertai kehadiran kaum wanita. Tatkala proses penyadaran ini dilakukan, bertaubatlah sebagian dari mereka. Jadilah orang yang dulunya tidak shalat, berprofesi mencuri dan tidak pernah mengeluarkan zakat, menjadi orang yang sangat berhati-hati dari barang yang syubhat, melaksanakan kewajiban dan menjauhi perkara yang diharamkan.

Pertanyaannya, apakah dibolehkan bagi syaikh ini melakukan acara nyanyian tersebut, padahal acara itu mendatangkan kemaslahatan? Sedang dia tidak mampu mendakwahi mereka kecuali dengan cara seperti itu?

Beliau rahimahullah menjawab :

Segala puji bagi Allah selaku penguasa alam semesta ini. Dasar jawaban permasalahan ini dan yang sepertinya perlu diketahui bahwa Allah telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, guna mengungguli di atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi, dan Allah sungguh telah menyempurnakan untuk beliau dan umatnya agama ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Çáúíóæúãó ÃóßúãóáúÊõ áóßõãú Ïöíäóßõãú æóÃóÊúãóãúÊõ Úóáóíúßõãú äöÚúãóÊöí æóÑóÖöíÊõ áóßõãõ ÇáÅöÓúáÇóãó ÏöíäðÇ

(yang artinya) :
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(Al-Mai’dah :3)

Allah telah memberi kabar gembira dengan kebahagiaan bagi orang yang mentaati-Nya dan kesengsaraan bagi orang yang memaksiati-Nya Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikamat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shadiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih.dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa :69)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal didalamnya selama-lamanya.” (Al-Jin :23)
Allah telah memerintahkan kepada makhluknya agar mengembalikan perselisihan dalam agama kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul (Nya) dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir……..” (An-Nisa :59)

Allah telah mengabarkan bahwa Rasul-Nya menyeru kepada Allah dan ke jalan-Nya yang lurus, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Katakanlah,”Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikuti.”
(Yusuf : 108)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaa-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumu…….” (Asy-Syura :52-530

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa diri-Nya memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang busuk, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami.”(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati didalam Taurat dan Injil yang ada disisi mereka yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar………….” (Al-A’raf :156-157)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan semua kebaikan dan mencegah dari segala bentuk kemungkaran. Telah menghalalkan semua kebaikan dan mengharamkan seluruh kebusukan.

Telah tetap dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Ash-Shahih bahwasannya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun kecuali berhak baginya untuk menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang dia ketahuinya untuk mereka dan mencegah mereka dari kejelekan yang dia ketahuinya untuk mereka.”

Telah tetap dari Al-Irbadh bin Syariyah, ia mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehati kami dengan nasihat yang menjadikan hati-hati kami bergetar dan mata berlinang air mata, ia mengatakan,”Kami berkata wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat perpisahan, maka apa yang dapat engkau wasiatkan kepada kami. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Aku wasiatkan kepada kalian dengan mendengar dan taat, sesungguhnya barangsiapa yang hidup dari kalian setelahku dan aku menjumpai perselisihan yang banyak, wajib atas kalian untuk berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’u ar-Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk setelahku, berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham, serta waspadalah kalian dengan perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat”.

Dan telah tetap darinya bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang menjauhkan kalian dari api neraka, kecuali aku telah utarakan kepada kalian.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Aku tinggalkan kalian diatas sebuah jalan yang malam harinya seperti siangnya, tidaklah menyimpang darinya setelahku, kecuali orang tersebut pasti binasa.”

Dalil-dalil yang mendukung prinsip dasar yang agung ini terangkum dari al-Kitab dan as-Sunnah yang sangat banyak sekali dan dicantumkan oleh para ulama di dalam kitab-kitab seperti berikut : Al-I’thisam bi al-Kitab wa as-Sunnah sebagaimana al-Imam Bukhari dan al-Baghawi dan selain keduanya juga meletakkan permasalahan ini.

Barangsiapa telah berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah maka dia termasuk wali Allah yang bertakwa, kelompok yang beruntung dan bala tentaranya yang menang. Orang-orang salaf seperti Imam Malik mengatakan :
“As-sunnah itu ibarat kapalnya Nabi Nuh, barangsiapa yang naik ke atas kapal tersebut pasti dia akan selamat dan barangsiapa tertinggal darinya pasti akan tenggelam.”

Az-Zuhri mengatakan : “Dahulu para ulama kamu mengatakan : Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.”

Jika sudah diketahui bahwa Allah akan memberi petunjuk dengannya terhadap orang yang tersesat, dengannya membimbing orang-orang yang menyimpang, serta dengannya pula memberi taubat kepada kepada pelaku kemaksiatan. Itu semua harus dengan apa yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya, al-Kitab dan as-Sunnah. Bila tidak, seandainya apa yang telah Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencukupi dalam hal itu, bisa dikatakan dengan pasti bahwa ajaran Rasul itu memiliki kekurangan dan membutuhkan penyempurnaan. Perlu diketahui, bahwa amal-amal shalih yang dengannya telah Allah perintahkan adalah perintah yang bersifat wajib atau mustahab. Sedangkan amal yang rusak Allah telah melarangnya.

Amal jika meliputi atas kemaslahatan dan kerusakan, sungguh pembuat syariat yang Maha bijaksana menyikapi, jika kemaslahatannya lebih besar atas kerusakannya maka tentu disyariatkannya. Jika kerusakan yang akan ditimbulkan lebih besar atas kemaslahatan yang didapatkannya, tentu tidak Allah jadikan syariat. Bahkan dilarang-Nya untuk mengamalkan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah : 216)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah,”Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (Al-Baqarah :219)

Demikianlah apa yang dilihat oleh manusia dari berbagai amal yang mendekatkan diri kepada Allah, yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya kemudharatan yang ditimbulkannya lebih besar dari manfaatnya. Jika tidak, andaikata ada manfaatnya lebih besar atas kmudharatannya, pastilah tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Pembuat Syariat.

Sesungguhnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang bijaksana lagi mulia, tidak akan menyia-nyiakan kebaikan-kebaikan yang bernuansa agama dan hal itu tidak akan terlewat begitu saja bagi kaum mukminin apa yang mendekatkan mereka kepada Allah selaku Penguasa alam semesta.

Apabila hal ini telah nampak dengan jelas, kita mengatakan kepada si penanya : bahwa syaikh tersebut bertujuan untuk menyadarkan masyarakatnya dari perbuatan dosa besar dan dia tidak mampu melaksanakannya kecuali dengan perkara bid’ah yang telah disebutkannya. Ini menunjukkan syaikh tersebut jahil terhadap cara dan metode yang syar’i yang dengan cara atau metode tersebut para pelaku kemaksiatan bertaubat. Atau dia lemah dan tidak mampu menentangnya. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Sahabatnya serta Tabi’in dahulu mendakwahi orang-orang yang lebih jahat dari pelaku kemaksiatan tersebut, yakni dari kalangan ahli kufur, fasiq dan maksiat tetapi tetap menggunakan cara-cara yang disyariatkan. Allah telah cukupkan mereka dengan cara dan metode yang syar’i tersebut (dan menghindarkan) dari cara-cara yang bid’ah.

Tidak diperkenankan untuk mengatakan bahwa tidak ada cara yang syariatkan dengan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya sesutu yang dijadikan pelaku kemaksiatan itu bertaubat. Karena telah diketahui dengan pasti, nyata dan ternukil secara mutawatir sekian banyak orang yang telah bertaubat dari kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Jumlah yang tidak terhitung, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tau, semuanya dari umat-umat terdahulu dan mereka bertaubat melalui cara-cara (wasilah dakwah) yang disyariatkan.

Tidak melalui perkumpulan yang bermuatan bid’ah. Bahkan orang-orang salaf (terdahulu), dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka adalah sebaik wali-wali Allah yang bertakwa dari umat ini. Mereka telah bertaubat kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan cara-cara yang disyariatkan, tidak dengan cara dan metode bid’ah. Negeri dan desa-desa mereka dulu dipenuhi oleh orang-orang yang telah bertaubat kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, melakukan apa yang dicintai Allah serta diridhai-Nya dengan cara-cara yang disyariatkan bukan dengan metode bid’ah.

Tidak mungkin pula untuk dikatakan, bahwa pelaku kemaksiatan itu tidak akan bertaubat kecuali dengan cara-cara yag bid’ah ini. Bahkan kadang dinyatakan, bahwa di kalangan para syaikh (kyai, haji, ajengan, orang pintar, red) itu terkadang ada yang jahil terhadap metode yang disyariatkan. Tak sedikit syaikh yang tidak memiliki kemampuan tentang hal itu, tidak mempunyai pengetahuan tentang al-Kitab dan as-Sunnah dan apa yang dapat disampaikan kepada manusia dengannya. Memperdengarkan mereka kepadanya, dari apa yang menjadikan Allah memberi taubat kepada mereka, lalu syaikh ini keluar dari cara-cara yang disyariatkan menuju kepada cara-cara yang berbau bid’ah.

Bisa jadi disertai dengan niat baik- jika dia memiliki agama- bisa jadi tujuannya untuk memimpin mereka dan mengambil harta-harta mereka dengan cara yang batil. Sampai kepada perkataan : ucapan si penanya dan selainnya, apakah itu dihalalkan atau diharamkan? Lafazh umum didalamnya mengandung syubhat (pengkaburan), tersamar hukum padanya, sehingga banyak dari kalangan ahli fatwa tak mengena kala memeberikan jawaban tentang hal tersebut.

Demikianlah perbincangan tentang nyanyian dan lainnya dari suatu amal ada dua macam :
Pertama
Apakah itu diharamkan atau tidak? Atau bahkan dikerjakan sebagaimana dikerjakannya seluruh perbuatan yang dinikmati oleh jiwa. Walaupun didalamnya didalamnya terdapat semacam senda gurau dan permainan, seperti nyanyian pengantin dan lainnya, dengan maksud bukan untuk ibadah dan taqarrub (mendekatkan) kepada Allah.

Kedua
Dilakukannya atas dasar, agama, ibadah, kebaikan hati, mencurahkan kecintaan hamba kepada tuhan mereka, mensucikan hati dan jiwa, membersihkan hati-hati mereka dan menumbuhkan rasa takut dalam hati, perasaan kembali, cinta, kelemah-lembutan hati dan selain itu semua perkara yang termasuk jenis ibadah dan ketaatan, bukan jenis permainan dan perkara yang menjadikan orang terlena.

Maka harus dibedakan antara nyanyian orang yang bertaqarrub dan nyanyian orang yang sedang bersenang-senang. Bedakan pula nyanyian yang didendangkan oleh manusia dalam acara pesta perkawinan dan tradisi, dengan nyanyian yang dilakukan untuk tujuan memperbaiki jiwa, bettaqarrub kepada Allah selaku penguasa langit.

Dalam hal ini perlu dipertanyakan, apakah nyanyian itu merupakan amal taqarrub dan ketataatan? Apakah nyanyian itu sebagai cara yang mengantarkan kepada Allah?

Apakah jadi keharusan bagi mereka untuk melakukannya karena cara tersebut bisa melunakkan hati, menumbuhkan kasih sayang kepada orang-orang yang dicintai, mensucikan jiwa dan mencairkan kebekuan hati dan berbagai hal yang bisa dipetik dengan nyanyian-nyanyian tersebut? Sebagaimana halnya kaum Nasrani mereka melakukan seperti ini di dalam gereja sebagai perwujudan ritual ibadah dan ketaatan, bukan sekedar main-main dan senda gurau.

Apabila hal ini telah diketahui, maka hakikat pertanyaannya, apakah dibolehkan untuk syaikh tadi menjadikan perkara-perkara tersebut, entah diharamkan, dimakruhkan atau dimubahkan, sebagai amal taqarrub, ketaatan, jalan menuju Allah, menyeru dengannya kepada Allah, menyadarkan para pelaku kemaksiatan, membimbing yang menyimpang dan menunjuki yang sesat.

Bersambung ke Film & sandiwara, nyanyian adalah sarana dakwah bid’ah (3)

(Dinukil dari buku “Menyingkap Syubhat Dakwah”, judul asli Al Hujjaju al Qowiyyah ‘ala anna wasa’il ad Dakwah Tauqifiyyah, penerbit Daar as Salaf, Riyad, KSA. Penulis Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Nashir Al-Abdulkarim rahimahullah. Penerjemah : Al-Ustadz Hannan Hoesin Bahannan, Bab “Sarana Dakwah Harus Sesuai Sunnah”, hal : 114 – 142 Penerbit “Maktabah Salafy Press”)

SUMBER:
http://www.salafy.or.id/fatwa-fatwa/film-sandiwara-nyanyian-adalah-sarana-dakwah-bidah-2/

FILM & SANDIWARA, NYANYIAN ADALAH SARANA DAKWAH BID’AH (3)

Harus dimaklumi bahwa agama ini memiliki dua pijakan dasar. Tidak ada agama kecuali apa yang telah disyariatkan Allah. Tidak ada keharaman kecuali apa yang telah diharamkan Allah. Allah mencela kaum musyrikin oleh sebab mereka mengharamkan apa yang tidak diharamkan oleh Allah dan mensyariatkan agama tanpa ijin dari Allah.

Inilah apa yang telah ditetapkan oleh Syaikhul Islam rahimahullah dan hal tersebut sangatlah jelas dan terang, tentang hakikat pertanyaan yang ditujukan kepada beliau, apakah diperkenankan untuk syaikh tersebut, yang menghendaki kebaikan para pelaku kemaksiatan tersebut, menggunakan cara apa saja dalam rangka untuk memperbaiki mereka? Adakah cara yang dipakai itu akan mengantarkan kepada keharaman datau sekedar dimakruhkan atau memang dibolehkan (mubah) untuk menggunakan cara apa saja guna mencapai apa yang diinginkan?

Beliau rahimahullah telah menegakkan hujjah-hujjah yang tegas atas keharaman menggunakan sarana / cara apa saja yang tidak disyariatkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan penggunaanya, sehingga kalaulah dibolehkan niscaya ada dalam prinsip dasar (ushul) agama.

Itu dalam rangka berpegang kepada kaidah yang inti di dalam pemahaman Ahlu Sunnah wal Jamaah, yaitu kita tidak melakukan ibadah kecuali kepada Allah. Hendaknya kita tidak mengibadahi-Nya kecuali dengan sesuatu yang telah disyariatkan Allah melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yangtelah ditetapkan Syaikhul Islam dan banyak ulama al-muhaqqiq menetapkannya.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah mengatakan :
“Telah dimaklumi bahwa aktifitas ini telah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekkah walnya dan kemudian Madinah. Tidak akan bisa menjadi baik akhir dari umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik orang-orang awalnya. Sebagaimana telah berkata ahlu ilmu dan iman, diantara mereka adlah al-Imam Malik bin Anas telah melontarkan ucapan ini dan ucapannya diambil oleh para ahlu ilmu pada jamannya dan setelahnya. Mereka menyetujui atas ucapan tersebut, bahwa akhir dari umat ini tidak akan bisa menjadi baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik awalnya. Maknanya bahwa yang telah menjadikan baik kondisi generasi pertama (salafush shalih) tiada lain dengan mengikuti Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah yang akan memperbaiki keadaan akhir umat ini sampai hari kiamat.

Barangsiapa menghendaki kebaikan masyarakat Islam, atau masyarakat lainnya di bumi ini, dengan menggunakan selain cara yang telah melahirkan orang-orang terdahulu (salaf) menjadi baik, sungguh telah salah dan ia telah berkata dengan tanpa kebenaran.
Tidak ada jalan lain, sesungguhnya jalan untuk memperbaiki manusia dan menegakkannya diatas jalan kebenaran, ialah melalui jalan yang telah dilalui oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya yang mulia serta orang-orang yang mengikutinya dengan baik sampai hari ini.”

Masalah ini telah ditetapkan dengan sangat indah oleh Syaikh Hamud bin Abdillah at-Tuwaijiri rahimahullah didalam kitabnya Tahdziru an-Nabil Mimma li fiqhi al-Mubihunli at-Tamtsil. Meskipun dalam buku itu topik yang diangkat hanya satu wasilah, yaitu drama atau sandiwara sebagai perkara baru yang diada-adakan, namun bantahan beliau bisa menjadi dasar yang kokoh untuk membantah semua wasilah dakwah bid’ah lainnya.

Telah berkata rahimahullah saat membantah penulis artikel “Hukum Drama dalam Dakwah kepada Allah” : Pasal, diantara kekeliruan penulis artikel adalah adanya anggapan (sebagaimana tercantum di hlm.13), bahwa drama / sandiwara itu termasuk salah satu sarana dakwah dan pembelajaran yang disyariatkan. Jawaban terhadap kekeliruan yang besar ini dilihat beberapa sisi :

Pertama
Bahwa sesuatu itu disyariatkan bila telah disyariatkan Allah dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedang dalam Al-Quran dan sunnah tidak dijumpai satu nash pun yang menunjukkan pensyariatan drama/ sandiwara. Kalau memang tidak dijumpai nash yang mensyariatkan perkara tersebut, dari Al-Quran dan As-Sunnah, maka anggapan drama itu disyaratkan adalah batil dan tertolak.

Kedua
Pernyataan bahwa film drama/sandiwara itu disyariatkan adalah sangat berbahaya. Karena mengandung kedustaan dengan mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian itu sebesar-besar kezhaliman dan keharaman.

Ketiga
Pernyataan bahwa drama/sandiwara itu disyariatkan, mengandung perbuatan memasukkan suatu perkara di dalam agama. Padahal Allah telah menyempurnakan dan meridhai agama bagi para hamba-Nya. Tindakan ini termasuk melakukan penambahan dalam agama dengan sesuatu yang tidak diijinkan Allah. Untuk ini telah diancam keras dan dinash-kan bahwa perbuatan ini termasuk tindakan zhalim. Allah Ta’ala berfirman :
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak di ijinkan Allah ? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan……..” (Asy-Syura :21)

Keempat
Adanya pernyataan drama / sandiwara itu disyariatkan, berarti melakukan tindakan penikaman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada para sahabatnya. Mereka dituduh telah menelantarkan salah satu perkara yang telah disyariatkan dalam mendakwahi dan mengajari manusia. Mereka lalai tidak mengajari dan membimbing manusia dengan wasilah itu.

Betapa besar dan dahsyat bahaya melakukan tikaman terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Asya-Syathibi telah menyebutkan dalam kitab Al-I’thisam seperti yang telah diriwayatkan Ibnu Hubaib dari Ibnu Al-Majisyun, ia mengatakan “Aku telah mendengar Malik berkata :
“Barangsiapa melakukan sebuah bid’ah dalam Islam lalu dipandangnya perbuatan tersebut sebagai suatu kebaikan, sungguh dengan perbuatannya itu dia telah menganggap Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghinati risalah lantaran Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(Al-Maidah :3)
Yang pada hari itu bukan termasuk agama, maka pada hari ini pun tidak dianggap sebagai agama.”

Asy-Syathibi juga menyebutkan di tempat lain dalam kitab Al-I’thisam, lafazhnya “Malik berkata,”barangsiapa mengada-adakan perkara baru di dalam umat dengan sesuatu yang tidak dijumpai pada salaful umah ini, sungguh ia telah menganggap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghianati risalah.” Beliau menyebutkan lainnya seperti yang di muka.

Apabila ucapan Imam Malik ini ditujukan kepada orang yang telah berbuat bid’ah di dalam Islam yang dianggapnya sebagai kebaikan, maka bagaimana dengan orang yang memandang kepada bid’ahnya drama yang telah diada-adakan oleh orang-orang akhir umat ini. Bahkan dinyatakan hal itu termasuk salah satu dari sarana dakwah dan pembelajaran yang disyariatkan. Maka ini adalah tindakan serampangan (berbicara tanpa aturan) tanpa tatsabbut dan tanpa berpikir sebelumnya. Masalah ini lebih besar dari yang telah disikapi oleh Imam Malik rahimahullah. Hati-hati dan waspadalah, hai penulis artikel atas apa yang ditetapkan sebagai perkara yang sngat berbahaya sekali. Yaitu, tindakan yang mengarah kepada penikaman terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan ucapan al-Imam Malik di muka karena sesungguhnya sangat penting sekali. Hendaknya ia bertakwa kepada Allah dan mengetahui bahwa membuat syariat baru dalam agama adalah perkara yang sangat berbahaya sekali dan tidaklah akan merasa aman menjadi bagian dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatka untuk mereka agama yang tidak diijinkan Allah …………. (Asy-Syura :21)

Juga tidaklah akan merasa aman mendapat bagian yang cukup dari firman Allat Ta’ala :
“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan……..” (An-Nahl :25)

Juga akan mendapatkan bagian dari yang telah datang dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tidak akan mengurangi dari dosa mereka sedikitpun.”
Diriwayatkan al-Imam Ahmad dan Abu Dawud juga dengan sanad yang jayyid, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa berfatwa dengan sebuah fatwa tanpa didasari ilmu maka dosanya bagi orang yang berfatwa.” (Diriwayatkan al-Hakim dengan lainnya, ia mengatakan ,’Shahih’, berdasar syarat Syaikhain dan telah disetujui oleh adz-Dzahabi dalam Talkhish-nya)

Diriwayatkan al-Imam Ahmad juga Ibnu Majah dan ad-Darimi dengan sanad yang jayyid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa berfatwa tanpa didasari yang kuat, maka dosanya bagi orang yang berfatwa.”

Seorang mukmin yang mensehati diri sendiri agar hati-hati dari ketergesa-gesaan dalam berfatwa tanpa didasari ilmu. Bahwa akibat tergesa-gesa dalam melontarkan fatwa bakal membahayakan bagi ahli ilmu itu sendiri. Tidak akan dicela seoarng yang berakal untuk mengatakan tentang sesuatu yang tersembunyi baginya (dengan mengatakan), ”Saya tidak mengerti atau saya tidak tahu”. Sungguh sebagian orang-orang salaf telah mengatkan, bahwa berkata, ”Saya tidak tahu” merupakan setengah ilmu.

Kelima
Dinyatakan bahwa Allah Ta’ala telah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyeru kepada jalan-Nya dengan al-hikmah dan al-mauizah al-hasanah(mengingatkan secara baik). Sebagian ahli tafsir telah mengemukakan,”al-hikmah adalah al-Kitab dan as-Sunnah. Sedang al-Mauizah al-Hasanah ialah segala sesuatu yang berasal dari Al-Quran, berupa ancaman dan peringatan untuk manusia”.

Inilah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dakwah dan pengajaran. Adapun mengadakan drama yang dilakukan oleh sebagian manusia pada jaman kita dan dianggap sebagai salah satu sarana dakwah dan pembelajaran yang disyariatkan, bukanlah termasuk yang diperintahkan Allah di dalam Kitab-Nya dan bukan dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semacam itu bukan pula berasal dari amalan para Sahabat dan Tabi’in serta orang-orang yang mengikutinya dengan baik. Barangsiapa telah menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalan para sahabatnya di dalam dakwah dan pembelajaran sesungguhnya dikhawatirkan dia termasuk ke dalam keumuman firman Allah :
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (an-Nisa : 115)

Hendaknya seorang mukmin yang menasehati dirinya waspada dan hati-hati agar tidak termasuk menjadi orang yang dinyatakan dalam ayat tadi. Yaitu orang yang dia mengira bahwasannya dia termasuk orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk.

Telah ditetapkan, bahwa sarana-sarana dakwah itu Tauqifiyyah. Asy-Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid hafizahullah mengatakan, bahwa dakwah itu terangkai dari sarana dan tujuan. Hakikat dakwah adalah tujuan yang bersifat tauqifiyyah dan tidak ada peluang untuk berijtihad di dalamnya.

Hakekat dakwah itu merupakan perkara yang tetap dan tidak akan berubah.
Hakekat dakwah itu merupakan perkara yang tetap dan tidak akan bergeser.
Hakekat dakwah itu merupakan perkara yang tetap dan tidak akan berubah dengan perubahan jaman, tempat dan kondisi.
Dasar di dalam sarana dakwah juga berdiri diatas manhaj (metode) kenabian.

Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :
“Barangsiapa telah mengadakan perkara baru di dalam urusan kami, sesuatu yang bukan darinya maka perkara tersebut tertolak”
Dalam lafazh lain :
“Barangsiapa beramal dengan sebuah amal yang bukan dari urusan kami maka amalan tersebut tertolak”.

Yang demikian adalah contoh-contoh yang telah digariskan oleh para ulama tentang ketauqifiyyah-an sarana-sarana dakwah. Menerangkan sebab berakarnya sesuatu yang telah mengendap di dalam hati, berupa kekotoran bid’ah-bid’ah dalam dakwah. Juga menetapkan seseorang yang berdiri secara adil di atas keselamatan pendalilan dengan dasar-dasar yang disyariatkan atas larangan menggunakan cara apapun yang dimasukkan ke dalam medan dakwah salafiyyah. Betapapun besar manfaat dan dapat dirasakan sumbangannya. Allah Dzat yang memberi taufik serta petunjuk ke jalan yang lurus

(Dinukil dari buku “Menyingkap Syubhat Dakwah”, judul asli Al Hujjaju al Qowiyyah ‘ala anna wasa’il ad Dakwah Tauqifiyyah, penerbit Daar as Salaf, Riyad, KSA. Penulis Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Nashir Al-Abdulkarim rahimahullahPenerjemah : Al-Ustadz Hannan Hoesin Bahannan, Bab “Sarana Dakwah Harus Sesuai Sunnah”, hal : 114 – 142 Penerbit “Maktabah Salafy Press”)

SUMBER: http://www.salafy.or.id/fatwa-fatwa/film-sandiwara-nyanyian-adalah-sarana-dakwah-bidah-3/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 3, 2012 by .
%d blogger menyukai ini: