wahabinews

Mengungkap Fakta Wahabi

KAWIN KONTRAK ALA WAHABI-SALAFI

Mungkin sebagian muslimin heran, wahabi/salafi yang paling getol mengharamkan nikah mut’ah, justru mereka menghalalkan kawin kontrak. Nikah mut’ah yang dihalalkan oleh Allah dan Nabi-Nya, mereka haramkan bahkan mereka katakan lebih baik berzina ketimbang nikah mut’ah.

Tidak heran jika wisatawan dari Saudi yang bermazhab wahabi/salafi berduyun-duyun datang ke Indonesia, khususnya Puncak Jawa Barat. Mereka menganggap Puncak sebagai surga banyak bidadari, yang harganya relatif murah. Saksikan saja di Puncak banyak arab-arab dari Saudi Arabia.

Mungkin saja banyak orang-orang wahabi/salafi Indonesia yang masih jahil dan bodoh tidak tahu tentang fatwa imam besar mereka. Kalau yang sudah tahu mereka malu-malu, kok mirip nikah mut’ah yang dihalalkan oleh syiah dan dianggap zina oleh mereka. Sekarang mau komentar apa? Wong mereka tidak tahu dalil Qur’an dan sunnahnya.

Ayo sekarang komentar! Nikah kontrak itu bid’ah, haram, zina atau halal?
Mau melawan fatwa imam besarnya Bin Baz?
Tidak percaya, mau nganggap ini fitnah? Kalau tidak bisa baca kitab imam besar wahabi, tanya pada ustadz-ustadz wahabi!

Memang Bin Baz tidak menamakan kawin kontrak, wong dia tidak bisa bahasa Indonesia.

Bin Baz menamakan sebagai ““KAWIN DENGAN NIAT AKAN DI TALAQ (dicerai)”.
Silahkan baca kitab kumpulan fatwa Bin Baz: “Majmuk Fatawa oleh Bin Baz, Jilid 4, hal 29-30 cetakan Riyadh – Saudi Arabia, Tahun 1411/1990″.

Umumnya mereka melakukan kawin kontrak dengan para pelacur. Makanya sekarang pemerintah Saudi agak resah karena para pelancong/wisatawan Saudi tersebut pulang membawa oleh-oleh yaitu penyakit kotor seperti HIV/AIDS, Hepatitis dll

Berikut ini sebagian kasus yang diberitakan oleh Antara News:
Sana`a (ANTARA News) – Musim panas, bagi sebagian warga Teluk kaya minyak adalah musim liburan panjang untuk menghilangkan kerutinan sehari-hari terutama di kalangan karyawan dan pegawai.

Pada musim panas tersebut, jutaan warga Teluk menghabiskan masa liburan panjang mereka di luar negeri. Sebagian menghabiskan masa liburan bersama keluarga, sebagian lainnya lebih memilih berlibur sendiri.

Bagi sebagian pria yang berlibur tanpa keluarga, kesepian selama masa liburan dimanfaatkan untuk menikah dengan gadis-gadis negara tujuan berlibur. Cara ini diyakini sebagai upaya menghindar dari prostitusi.

Sebagian lainnya memang sengaja mencari pendamping untuk selanjutnya dibawa pulang ke Saudi untuk mendapatkan kewarganegaraan setempat.

Maka tidak heran bila, masa liburan musim panas tersebut memunculkan fenomena pernikahan musiman antara sebagian warga Arab dengan wanita-wanita di negara tempat berlibur.

Para makelar di negara tujuan yang paham dengan kebiasaan sebagian wisatawan Arab tersebut pada “berebutan” mencarikan wanita pilihan untuk dijadikan istri, tentunya dengan imbalan materi menggiurkan.

Masih tidak percaya? Tanya saja pada orang-orang sering ke wilayah puncak.
Ada kisah lucu, teman dari teman saya, yang jadi mekelar wisatawan Saudi bercerita: Ketika ia menjemput wisatawan dari arab Saudi di Bandara Cengkareng, begitu mereka turun dari pewasat mereka dengan girangnya berkata diulang-ulang “Janah”, maksudnya mereka segera memasuki surga yang ada di Puncak Jawa Barat.

TEKS FATWA SYEKH BIN BAZ TENTANG “KAWIN DENGAN NIAT TALAQ” [Kawin Kontrak Ala Wahabi]

Posted on Agustus 14, 2007 by abusalafy

Setelah kita muat berita tentang peringatan sebuah lembaga partikelir Saudi “Awashir” terhadap warga Saudi agar berhati-hati menikah di negeri asing, dan fatwa Syekh bin Baz tentang kawin kontrak ala wahabi/salafi atau yang disebut oleh Syekh Bin Baz “NIKAH DENGAN NIAT (akan) DI TALAQ”. kami mendapat banyak tanggapan dan banyak pula para wahabi yang menuduh kami berbohong atau menfitnah, padahal telah kami kutipkan dengan jelas nama buku, halaman, tahun dan tempat cetakan buku rujukan kami tersebut. Maka dengan ini kami muat TEKS FATWA SYEKH BIN BAZ tersebut dan kami sertakan scan-nan buku fatawa tersebut. sebagai bukti kepada para wahabi/salafy bahwa blog kita bukan seperti situs dan blog mereka yang suka menuduh dan tanpa bukti.

kami heran dengan mereka kenapa tidak mau membuka buku fatawa Syekh Bin Baz tersebut, kami yakin mereka pasti memilikinya, mungkin saja mereka malu karena Imam Agung mereka Syekh bin Baz berfatwa mirip musuh bebuyutannya (syi’ah) tentang kawin mut’ah, bahkan fatwa kawin dengan niat talaq ini lebih jelek karena merupakan bentuk penipuan terhadap calon istri yang akan dinikah.

Selanjutanya silahkan membaca TEKS FATWA SYEKH BIN BAZ “NIKAH DENGAN NIAT TALAK” yang kami kutip dari buku “Majmuk Fatawa“-nya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah yang dikenal dengan sebuatan Bin Baz, Jilid 4, hal 29-30 cetakan Riyadh – Saudi Arabia, Tahun 1411/1990″

 

-NIKAH DENGAN NIAT (AKAN) DI TALAQ-

Pertanyaan: Saya mendengar bahwa anda berfatwa kepada salah seorang polisi bahwa diperbolehkan nikah di negeri rantau (negeri tempat merantau), dimana dia bermaksud untuk mentalak istrinya setelah masa tertentu bila habis masa tugasnya. Apa perbedaan nikah semacam ini dengan nikah mut’ah? Dan bagaimana kalau si wanita melahirkan anak? Apakah anak yang dilahirkan dibiarkan bersama ibunya yang sudah ditalak di negara itu? Saya mohon penjelasanya.

Jawab: benar. Telah keluar fatwa dari “Lajnah Daimah”, di mana saya adalah ketuanya, bahwa dibenarkan nikah dengan niat (akan) talak sebagai urusan hati antara hamba dan Tuhannya. Jika seseorang menikah di negara lain (di rantau) dan niat bahwa kapan saja selesai dari masa belajar atau tugas kerja, atau lainnya, maka hal itu dibenarkan menurut jumhur para ulama. Dan niat talak semacam ini adalah urusan antara dia dan Tuhannya, dan bukan merupakan syarat dari sahnya nikah.

Dan perbedaan antara nikah ini dan nikah mut’ah adalah dalam nikah mut’ah disyaratkan masa tertentu, seperti satu bulan, dua bulan, dan semisalnya. Jika masa tersebut habis, nikah tersebut gugur dengan sendirinya. Inilah nikah mut’ah yang batil itu. Tetapi jika seseorang menikah, di mana dalam hatinya berniat untuk mentalak istrinya bila tugasnya berakhir di negara lain, maka hal ini tidak merusak akad nikah. Niat itu bisa berubah-ubah, tidak pasti, dan bukan merupakan syarat sahnya nikah. Niat semacam ini hanyalah urusan dia dan Tuhannya. Dan cara ini merupakan salah satu sebab terhindarnya dia dari perbuatan zina dan kemungkaran. Inilah pendapat para pakar (ahl al-ilm), yang dikutip oleh penulis Al-Mughni Muwaffaquddin bin Qudamah rahimahullah

______________________

Dan dibawah ini Scan dari buku asli Fatwa tersebut.

fatwa_1_rsz80.jpg

fatwa2_50.jpg

fatwa3_9.jpg

Sumber:
http://abusalafy.files.wordpress.com/2007/08/fatwa_1_rsz80.jpg
http://abusalafy.files.wordpress.com/2007/08/fatwa2_50.jpg
http://abusalafy.files.wordpress.com/2007/08/fatwa3_9.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 26, 2012 by .
%d blogger menyukai ini: