wahabinews

Mengungkap Fakta Wahabi

Arab Saudi rela mendanai ribuan mahasiswa lokal dan internasional secara cuma-cuma tentunya dengan tujuan khusus: dalam rangka menyebarkan misi Wahabi Salafi ke seluruh dunia.

Gerakan Wahabi didirikan pada abad ke-18 oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) dari Najd, Arab Saudi. Ibnu Abdul Wahhab mengampanyekan usaha memberantas praktik-praktik yang dilakukan umat Islam yang dianggapnya bid’ah. Gerakan Wahabi atau Salafi berpusat di Arab Saudi. Dan didanai oleh pemerintah Arab Saudi. Gerakan Wahabi berkembang ke luar Arab Saudi karena dibawa oleh para sarjana lulusan sejumlah perguruan tinggi di Arab Saudi atau universitas di luar Arab Saudi yang mendapat bantuan finansial dan/atau tenaga pengajari dari Arab Saudi seperti LIPIA (Lembaga Ilmu Pendidikan Islam dan Bahasa Arab) yang merupakan cabang dari Universitas Muhammad Ibnu Su’ud yang berada di Riyadh Arab Saud.

Seluruh biaya operasional peguruan tinggi negeri di Arab Saudi dan di luar Arab Saudi yang berafiliasi ke universitas negara petrodolar ini disubsidi 100% oleh negara. Dan 100% mahasiswanya mendapatkan beasiswa. Oleh karena itu, tidak hersn kalau banyak pemuda Indonesia yang bermimpi untuk dapat kuliah di salah satu perguruan tinggi di Arab Saudi. Selain gratis, mendapat beasiswa penuh juga mendapat tiket pulang gratis setiap tahun. Kalau tidak dapat kuliah di Arab Saudi, minimal dapat belajar di LIPIA Jakarta yang juga memberikan beasiswa penuh. Bahkan tidak jarang ada mahasiswa UIN Syahid yang juga kuliah di LIPIA hanya untuk mendapatkan beasiswa.

Arab Saudi rela mendanai ribuan mahasiswa lokal dan internasional secara cuma-cuma tentunya dengan tujuan khusus: dalam rangka menyebarkan misi Wahabi Salafi ke seluruh dunia. Umumnya, sarjana lulusan universitas Arab Saudi sudah terkena “cuci otak”. Indikasi paling mudah adalah kecaman mereka terhadap tahlil, peringatan maulid Nabi, ziarah qubur, dan semacamnya.

Bantuan finansial tidak hanya sampai di sini. Ketika para sarjana itu pulang ke negara masing-masing, mereka masih akan tetap dapat kucuran dana dari kerajaan melalui berbagai lembaga atau organisasi binaan negara, seperti Rabithah Alam Islamy, WAMY (World Association of Muslim Youth), dan lain-lain. Bantuan finansial diberikan khususnya pada para alumnus atau non-alumni perguruan tinggi kerajaan Arab Saudi yang mendirikan lembaga pendidikan seperti sekolah atau pesantren dan membangun masjid.

Tentu, tidak ada salahnya menerima bantuan dari manapun. Apalagi kalau dari sesama muslim. Namun, yang menjadi kekhawatiran banyak kalangan adalah adanya pemaksaan—baik langsung atau tidak langsung—terhadap lembaga yang mendapat bantuan untuk ikut menyebarkan paham Wahabi. Ada beberapa kasus di mana kyai-kyai non-Wahabi yang ingin mendapat bantuan dari kerajaan Arab Saudi terpaksa tidak melaksanakan kebiasaan rutin ala pesantren seperti tahlil, atau qunut shalat Subuh saat ada peninjauan dari utusan Arab Saudi yang hendak memberi bantuan.

Gencarnya aliran dana bantuan finansial untuk lembaga-lembaga pendidikan dan masjid itu menjadi faktor utama mengapa gerakan paham Wahabi Salafi berkembang cukup pesat di Indonesia. Dan itu juga menjadi kunci jawaban mengapa kalangan aktivis Wahabi Salafi begitu bersemangat untuk menyebarkan ideologi Salafi-nya ke mana-mana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 21, 2012 by .
%d blogger menyukai ini: